Anak Berkebutuhan Khusus

Anak Berkebutuhan Khusus



Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah mereka yang mengalami perbedaan atau penyimpangan dari keadaan rata-rata atau normal, pada aspek  fisik,  motorik, inderawi, mental, sosial, atau emosi, sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.  Menurut Ima Rani, Ketua Program Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di School of Human, ada banyak fakor yang menyebabkan ABK membutuhkan pelayanan secara khusus, seperti disebabkan karena suatu kondisi internal (seperti ganguan fisik, ganguan cara berpikir/kognitif, ataupun ganguan sosio-emosional), maupun eksternal (seperti salah asuhan, golongan minoritas, terlantar, narkoba, keretakan rumah tangga, dll). 

Sekolah inklusi telah membuka diri untuk menerima anak reguler dan ABK.  Jadi ABK tidak perlu belajar di sekolah Luar Biasa (SLB) untuk mendapatkan hak pendidikannya jika memiliki hambatan yang minor.  Hak mendapat pendidikan terhadap semua anak normal maupun ABK sesuai dalam pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yaitu “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”.  

Apakah cukup ABK di sekolah inklusi?  Apakan jumlah ABK sesuai dengan keberadaan sekolah inklusi?  Pastinya sekolah inklusi yang masih terbatas jumlahnya di Indonesia.  Tidak hanya jumlah sekolah inklusi yang dibutuhkan, tapi juga terbatasnya SDM seperti guru pendamping/atau guru pembimbing khusus, terbatasnya training untuk para guru-guru, keterbatasan terapis.  Sarana prasarana penunjang juga menambah list kebutuhan yang harus di perjuangkan di negeri kita ini. 

ABK membutuhkan tidak hanya sekolah inklusi dan sarana pendukungnya namun juga kerjasama antara pemangku pendidikan, pendidik, terapis dan orang tua untuk mendapatkan haknya. 

Apakah ini saatnya refleksi dan evaluasi sekolah di Indonesia?

Berbagai ragam hambatan ABK yang sebetulnya dapat ditampung di sekolah inklusi diantaranya adalah:
  • Autisme Spectrum Disorder, adalah gangguan pada perkembangan anak yang ditandai oleh hambatan dalam berinteraksi sosial, komunikasi serta memiliki pola perilaku dan minta yang terbatan dan berulang. 
    • ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), adalah kelainan pada otak. Kelainan ini dapat mempengaruhi kegiatan sehari-hari anak Anda di rumah dan di sekolah. Anak ADHD biasanya kesulitan untuk memperhatikan dan mengontrol tingkah laku mereka, dan terkadang hiperaktif.
    • ADD (Attention Deficit Disorder), satu jenis ADHD yang tidak melibatkan pergerakan yang terus-menerus dan rasa gelisah
    • Sindrom Asperger, adalah gangguan neurologis atau saraf yang tergolong ke dalam gangguan spektrum autisme. Gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorder) atau yang lebih dikenal dengan penyakit autisme merupakan gangguan pada sistem saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.
  • Cerebal Palsy, yaitu kelainan gerakan, tonus otot, ataupun postur yang disebabkan oleh kerusakan yang terjadi pada otak yang belum matang dan berkembang (biasanya sebelum kelahiran).
  • Down Syndrome, yaitu kelainan genetik yang menyebabkan penderitanya memiliki tinkat kecerdasan yang rendah dan kelainan fisik yang khas. 
  • Mental Retardasi (IQ < 69),  yaitu gangguan perkembangan otak yang ditandai dengan nilai IQ di bawah rata-rata orang normal dan kemampuan untuk melakukan keterampilan sehari-hari yang buruk.
  • Slow Learner (IQ 70 –89), seorang yang memiliki prestasi rendah (di bawah rata-rata anak pada umumnya) pada salah satu atau seluruh area akademik, tapi ia bukan tergolong anak terbelakang mental.
  • Gangguan Sosial–Emosi, adalah ketidaknormalan yang menghambat perkembangan anak dalam mengelola emosi, kepribadian, dan hubungan interpersonal anak dengan orang lain.
  • Learning Differences  seperti: 
ü  Disleksia- kesulitan membaca 
ü  Disgrafia- kesulitan menulis 
ü  Diskalkulia- kesulitan berhitung 
ü  Dysphasia- kesulitan berbicara 
ü  Dyspraxia- kesulitan motorik



"A Child with special needs 
will inspire you to be a special kind of person!"


#SekolahInklusi
#AnakBerkebutuhanKhusus(ABK)
#SchoolofHuman
#AISEI_KomunitasPendidikIndonesia

Comments

Post a Comment